Warning: session_start(): Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/frengki/public_html/config/connect.php:21) in /home/frengki/public_html/postdetail.php on line 5

Warning: session_start(): Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/frengki/public_html/config/connect.php:21) in /home/frengki/public_html/postdetail.php on line 5
Frengki Kwan - QQ
 

Warning: fopen(counter/visit.db): failed to open stream: Permission denied in /home/frengki/public_html/counter/counter.php on line 41

Warning: fwrite() expects parameter 1 to be resource, boolean given in /home/frengki/public_html/counter/counter.php on line 43

Warning: fclose() expects parameter 1 to be resource, boolean given in /home/frengki/public_html/counter/counter.php on line 45
Frengki Kwan - QQ
 
Dengan Kunci ini masa depan gemilang Anda akan terbuka! -- www.frengkikwan.com --
     January 21, 2018, 23:02 PM
Untitled Document Today (232)  Yesterday (232)  Total Visitor (500000)  
Home QQ
Profile
QQ
Job
QQ
Property
QQ
Gallery
QQ
Inspiration
QQ
Dreams
QQ
Contact
Frengki Kwan - QQ
 
 
Saya, Frengki Kwan, bukanlah pribadi paling hebat di dunia bisnis, bukan juga
orang super sukses. Namun melalui website ini, sebuah website yang berisikan perjalanan menapaki tangga kesuksesan tentu mampu memberikan setitik cahaya harapan bagi masa depan para pembaca website ini.
Selamat membaca dan silakan persiapkan tangga kesuksesan Anda!

Category  >>  Keluarga
 
Ibuku Bukan Babysitter Bagi Buah Hatiku
 
Berbahagialah kita yang saat ini masih memiliki ibu. Ibu adalah sosok yang selalu memberikan kedamaian dalam hidup. Kasih sayangnya tak pernah pupus dimakan waktu. Menjadi seorang ibu adalah kebahagiaan yang tak terkira. Kita akan bisa merasakan bagaimana cinta dan sayangnya kita terhadap buah hati kita pada saat kita menjadi seorang ibu.
 
Karena itu sudah sewajarnya dan seharusnya kita membalas semua kasih sayangnya dengan selalu membahagiakannya selama sisa hidupnya. Kita ingin agar orang yang telah membesarkan kita dengan keringat dan airmatanya, di masa tuanya bisa merasakan ketentraman dan kedamaian. Hanya satu kebahagiaannya, ia ingin melihat buah hatinya tumbuh dewasa dan hidup bahagia. Ia pun ingin melihat tumbuh kembang cucunya dengan sejuta harapan bahwa mereka mampu menjadi penerus generasi orangtua mereka.

Mungkin di antara kita pernah ada menyaksikan seorang nenek yang sedang menggendong cucunya. Nenek yang tampak letih itu dengan senyum mengembang tanpa kenal lelah mengasuh si kecil dengan penuh kesabaran. Terkadang ia mengajak main si kecil, menyuapi si kecil makan, memandikannya atau meninabobokan cucunya dengan penuh kasih sayang. Semua yang dilakukannya sungguh tanpa pamrih.

Sementara ibu dari bayi mungil itu tengah sibuk dan berkutat dengan pekerjaannya di kantor atau sedang berada di luar rumah. Bahkan mungkin hampir seharian. Bisa kita bayangkan betapa lelahnya tubuh renta itu mengasuh cucunya di rumah sambil menantikan kehadiran anak atau ibu dari cucunya itu pulang.

Terkadang himpitan dan tuntutan ekonomi membuat kita merasa berat untuk menghadirkan seorang baby sitter atau Pembantu Rumah Tangga (PRT) untuk menjaga dan mengasuh buah hati kita selama kita beraktifitas di luar rumah. Idealnya, kehadiran nenek atau ibu kita adalah hanya sebagai pengawas bagi babysitter atau PRT tersebut dalam menjaga dan mengasuh cucunya atau buah hati kita.

Mungkin di antara kita juga memiliki pertimbangan lain. Bukan masalah materi atau kemampuan dalam menggaji baby sitter atau PRT, namun lebih kepada rasa kepercayaan dan kenyamanan. Kita merasa bahwa buah hati kita akan lebih aman bila diasuh sendiri oleh neneknya ketimbang oleh Babysitter atau PRT.

Melihat kenyataan tersebut, mungkin bagi sebagian orang menganggap hal itu sudah biasa bila nenek begitu menyayangi cucunya. Namun terkadang kita lupa akan satu hal. Ketika kita telah berumah tangga dan memiliki keluarga kecil. Ada suami dan anak-anak yang lucu dan sehat, namun peran ibu kita masih terus berjalan dalam kehidupan kita.

Kita lupa bahwa ibu kita sudah saatnya duduk manis dan hanya menyaksikan perkembangan cucunya. Ingatlah, tubuh tua itu telah letih sekian lama membesarkan kita hingga akhirnya kita memiliki kehidupan sendiri. Mungkin kita lupa bagaimana memperlakukan ibu sebagaimana mestinya. Ibu kita hanya seorang yang telah lanjut usia. Bukan masanya lagi baginya untuk mengurus dan mengasuh bayi/anak kecil.

Betapapun sayang dan cintanya ibu kita terhadap anak dan cucunya, namun bukan berarti kita bisa merasa lega menitipkan buah hati kita pada sosok tua itu. Bukan berarti kita bisa leluasa membiarkan ibu kita yang memandikan atau menyuapi cucu-cucunya. Jangan biarkan kesibukan kita sebagai wanita karier melupakan hal tersebut. Ingatlah satu hal, tubuh tua itu telah letih dan sudah saatnya ia menghabiskan sisa hidupnya dengan rasa damai tanpa harus direpotkan mengurus cucu-cucunya.

Perlu kita ingat bahwa ketika kita memutuskan untuk membina rumah tangga dan hidup mandiri, konsekwensi hidup tanpa campur tangan orang tua, mau tidak mau harus kita hadapi. Hidup itu pilihan. Kita dihadapkan pada sebuah pilihan, antara tetap berkarier atau menjadi ibu rumah tangga. Sekalipun berat meninggalkan buah hati kita pada Babysitter atau PRT yang notabene orang lain, namun percayalah dengan kekuatan doa dan sejuta keyakinan di hati bahwa Tuhan akan senantiasa menjaga buah hati kita di manapun dan dengan siapapun ia berada.

Sahabat, apalah arti kekayaan dan kehebatan yang kita miliki bila kita masih memperlakukan ibu kita layaknya Babysitter atau pengasuh bagi putera-puteri kita. Sesungguhnya, ibu kita tak pernah mengeluh sepanjang hayatnya. Ia tak pernah menampilkan wajah letihnya. Yang ada di hatinya adalah ia ingin mengasuh dan membesarkan cucu kesayangannya dengan tangannya sendiri. Seolah-olah cucunya itu adalah anaknya sendiri.

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Itulah fakta yang kita hadapi saat ini. Kelak kita akan merasakan betapa berat perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak-anaknya. Karena cinta dan kasih sayang seorang ibu tak pernah lekang oleh waktu. Di masa tuanya kini, sudah saatnya kita sebagai anak menyaksikan ibu yang kita kasihi dengan sepenuh hati hidup dengan tenang dan damai. Di sisa hidupnya, jangan pernah kita biarkan ia merasakan kelelahan dalam membesarkan buah hati kita.

Ibu, jasamu sungguh tiada terkira. Tak satupun kata yang sanggup melukiskan betapa cinta dan kasih sayangmu melebihi apapun di muka bumi ini. Izinkanlah aku untuk membalas semua cinta kasihmu. Apapun yang kuberikan untukmu selama ini tak sebanding dengan curahan kasih sayangmu kepadaku. Tulus kasihmu mengalir tiada henti setiap waktu. Ibu, izinkan kucium dan kupeluk engkau, sekedar ingin kuungkapkan betapa aku sangat menyayangimu.

Tulisan ini kupersembahkan untuk ibuku tercinta. Semoga ia selalu sehat dan Tuhan berkenan memberiku kesempatan untuk selalu membahagiakannya.

I love you, mom… really really love you.

Selamat Hari Ibu.
 
   
inserted at 2011-12-22 13:04:00  |  sosbud.kompasiana.com  
 
ARTICLE ARCHIVE  
   
Keluarga
 
Ibuku Bukan Babysitter Bagi Buah Hatiku
Jam Kebahagiaan
5 Hal ...
5 Hal yang Tidak Boleh Diucapkan Orangtua Kepada Anak
Kaya,Sukses atau ...
Kaya,Sukses atau Cinta
Kesehatan
Entrepreneurship
Investasi
Perencanaan Keuangan
Asuransi
Pendidikan Anak
Pensiun
Perencanaan Pajak
Warisan
Lain-lain